Ke-MABUK-an Spiritual, HIJAB yang Sangat Halus
Sungguh….. bagi pejalan2 Ruhani dalam
menuju kepada Allah Swt dengan melalui Ma’rifatnya kepada Allah maka
“ke-MABUK-an” itu adalah suatu hal yg selalu ada dan pasti ada dan tidak
akan mungkin tiada karena “ke-MABUK-an” itu adalah FASE untuk sempurna
dalam menuju Al-HAQ. Sehingga………bagi yg belum mengalami “ke-MABUK-an”,
maka bersiap2lah jika suatu saat mengalaminya dan jangan takut jika hal
itu suatu saat terjadi. Dan bagi yg sudah berada di dalam “ke-MABUK-an”
maka hendaknya di ketahui bahwa hal itu masih dalam Perjalanan bukan
“AKHIR” perjalanan. Maka……senantiasa lah tetap TAWAKKALTU ALALLAH agar
tidak “HANYUT” di “ke-MABUK-an” itu sehingga dalam situasi dan kondisi
serta keadaan apapun tetap dalam “SADAR” dan ingatlah bahwa Allah
berfirman : “Watawakkaltu Alallah fa HUWA hasbuh” dan siapa yg
bertawakkal dengan sebenar2nya Tawakkal maka “DIA” akan menjadi
penolongmu dan penJAMIN dirimu”. Biarkanlah…………….”ke-MABUK-an” itu
datang pada diri sebagai “HADIAH” dari ALLAH dan janganlah engkau
menolaknya karena sesungguhnya “ke-MABUK-an” itu adalah suatu “Isyarat”
dari pada ALLAH bahwa ALLAH sungguh2 sedang memperhatikan dirimu dalam
Pandangan Rahmat-NYA, maka tersenyumlah selalu dan lapangkan JIWA dalam
menghadap kepada-NYA dengan menjalani “ke-MABUK-an” itu,
namun……..tetaplah Istiqomah dalam TAWAKKALTU ALALLAH agar diri tidak
hanyut di Samudra Jamal (ke-INDAHAN)NYA yg menyebabkan kelalaian dari
Tujuan yg sebenar2nya yaitu “AL-HAQ” yg memiliki Sifat Jalal, Jamal,
Qohar dan Kamal.
‘
‘
ke-Asyikan itu adalah sesuatu yang me-MABUK-an…..
‘
‘
Tenggelam dalam penghayatan Amal Ibadah adalah suatu ke-Asyikan dan itu adalah ke-MABUK-an….
Tenggelam dalam penghayatan akan lantunan Wirid dan Zikir juga adalah suatu ke-Asyikan dan itu pun adalah ke-MABUK-an….
Tenggelam dalam Musyahadah akan Allah dalam Ma’rifatullah itu juga suatu ke-Asyikan dan itu pun adalah ke-MABUK-an….
Asyik dan hanyut dalam ke-AKU-an yg tiada yg lain selain AKU, itu pun adalah ke-MABUK-an. Dll….dll….dll…..dll….dll….
Apa saja yg membawa kepada ke-Asyikan dalam perjalanan menuju kepada Allah dengan hal apapun itu adalah suatu ke-MABUK-an.
Dan intinya ke-MABUK-an itu semua…….di
dalam perjalalan menuju AL-HAQ (ALLAH SWT) baik dengan Amal Ibadah,
lantunan wirid dan zikir, Musyahadah, dll…dll…dll……kesemuanya itu SADAR
maupun tiada di-SADAR-i, TAHU atau tiada dike-TAHU-i bahwa :
“IA(HAMBA)sedang ASYIK di dalam ke-MABUK-an CINTA kepada TUHANNYA”.
Ya…….MABUK CINTA kepada AL-HAQ dan UNIKnya ke-MABUK-an CINTA itu sangat
Lembut sekali menghampiri dirinya sehingga tanpa di sadari Ia MABUK itu
seolah2 di sebabkan dengan sebab2 yg lain padahal tiada sebab yg lain
selain CINTA kepada AL-HAQ, Ya…..CINTA kepada
AL-HAQ……AL-HAQ….HAQ…HAQ…..HAQ……
Bahkan Azazil pun tanpa di-SADAR-i nya
ia itu sangat CINTA kepada Tuhannya sehingga membuat ia CEMBURU BUTA
ketika Tuhan melebihkan kedudukan Adam beserta Anak keturunannya di
bandingkan dengan dirinya sendiri yang kemudian ber-EFEK Benci dan
DENDAM kepada Adam dan Keturunannya. Semua itu di karenakan Azazil telah
di serang ke-MABUK-an CINTA kepada Tuhannya dalam Versi “CINTA yang
BUTA”, bukan CINTA yang TULUS dan MURNI.
pada Saat ke-MABUK-an di dalam CINTA yang TULUS dan MURNI maka Allah
sendirilah yng memuji diri-NYA pada lisan Hamba-NYA. Dan ketika itu
pula maka leburlah ke-EGO-an diri kedalam Sifat-NYA yang Ar-Rahman
Ar-Rahiiim. Maka jika benar sudah demikian kenyataannya PASTI Ia akan
menjadi Rahmat bagi sekelilingnya sebagai Cermin dari pada Sifat JALAL,
JAMAL, QOHAR dan KAMAL- Nya Allah Swt dan ke-AKU-an menjadi Sirr/Rahasia
dalam Diam-NYA sehingga tidak muncul kepermukaan Zahir yang membawa
Fitnah bagi sekelilingnya.
“Bagi
para pemabuk memaknai bahwa “MABUK” itu adalah ke-Asyik-an sedangkan
bagi mereka yg sudah Sadar sesadar2nya memaknai “MABUK” itu adalah
“HIJAB yang Sangat Halus”.
“Bagaimana
mungkin dapat berhenti dari kebiasaan “MABUK” Jika masih berkawan
dengan para pemabuk dan berkonsultasi juga dengan pemabuk, yang ada
malah tambah “MABUK.”. Maka…..Carilah seorang TABIB TUHAN yg sudah dapat
mengendalikan Rasa ke-MABUK-an itu, maka ke-MABUK-an mu pun perlahan2
akan sirna”.